BREAKING NEWS

Senin, 19 September 2016

Tips Agar Berkah Dalam Bisnis


Perilaku jual beli masyarakat sering didasarkan atas upaya mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Bahkan didasarkan atas keserakahan dan kerakusan. Misalnya, belanja susu per shet  Rp1000,- dijual Rp 2000,- Kalau di jual di atas  kereta api atau bus angkutan Rp 2.500,- Air Aqua gelas isi 250 ml, yang belanjanya per dus Rp 12.000,- berisi 46 gelas, dijual per gelas Rp 1.000,- Air minum yang dulu diperoleh secara gratis dan disediakan oleh masyarakat di depan rumahnya, kini menjadi komoditas yang diperdagangkan untuk mengeruk keuntungan banyak yang harganya melebihi harga BBM. Akhirnya masyarakat dihadapkan pada kesulitan karena kondisi ekonomi terpuruk, pengangguran kian  bertambah. Budaya gotong royong dan tolong menolong sudah tidak berlaku lagi. Oke lah kalau memang situasi dan kondisi sudah seperti itu. Tetapi bagaimana kalau jual beli tidak untuk mengeruk laba berlebihan, mengambil untung tidak usah terlalu besar. Sehingga sama-sama enak dan nyaman, si penjual dagangannya cepat habis, si pembeli terpenuhi kebutuhannya, tidak ditahan kehausan atau kelaparan di jalan.
Kebiasaan masyarakat berorientasi pada pola keuntungan banyak, sementara aspek kualitas barang yang dijual kurang diperhatikan, muncullah kebiasaan tawar-menawar untuk meminimalisir kekecewaan. Tetapi anehnya, justru seringkali terjadi, baik si penjual maupun si pembeli merasa kecewa, meski telah sepakat mengenai harga. Anehnya lagi, kalau jual beli dengan non muslim (china) tidak berani tawar-menawar, sementara kalau dengan sama-sama muslim, tawar-menawar lamanya minta ampun, minta diskon lagi.
Dalam proyek-proyek besar pun tidak terlepas dari lobi-lobi pimpinan, tawar menawar, bargaining, yang ujung-ujungnya juga kecewa, karena banyak penggunaan dana yang diselewengkan, bisa melalui mark up, suap, jatah, ancaman, dan preman-preman yang berkeliaran minta ini dan itu, laporan fiktif dan lain-lain.
Oleh karena itu untuk membangun masyarakat madani yang penuh dengan kasih sayang tidak perlu profit orientid berlebihan. Tetapi dengan prinsip tolong menolong atas dasar kebaikan dan taqwa. Hal ini diperlukan masyarakat yang jujur, terbuka dan dengan niatan yang baik dari lubuk hati yang dalam untuk tidak mengecewakan orang, apalagi merugikan. Tentu semua itu memerlukan proses dan perjuangan yang tidak kenal berhenti.
Jika masyarakat madani terwujud, tidak perlu lagi adanya tawar-menawar, atau lobi dalam setiap akad jual beli atau hutang piutang. Tidak ada yang menekan, tidak ada yang ditekan. Tidak ada yang di atas dan tidak ada yang di bawah. Tidak ada yang kuat dan tidak ada yang lemah. Semua masyarakat muslim sama. Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang non Arab, demikian kata Rasulullah saw. Dan sesuai pula dengan hadits yang tercantum di atas.
Umumnya yang sering cerewet dalam jual beli adalah kaum perempuan. Mereka terkenal berlama-lama dalam tawar-menawar. Dan jika sudah terjadi kesepakatan harga, saat membayar masih saja kaum perempuan minta diskon, atau barangnya ditambah. Itulah kaum perempuan. Padahal Allah mengingatkan keras di dalam Alqur’an : “1. Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. 2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, 3. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”(QS 83 : 1-3) Oleh karena itu, Allah mewajibkan kepada kaum laki-laki bekerja mencari nafkah untuk keluarga, bukan kaum perempuan. Karena perempuan dengan modal kecantikannya sering kaum lelaki tidak terpedaya dan menjual semurah-murahnya. Perempuan kalau bekerja lebih banyak madhorotnya daripada manfaatnya. Kemaksiatan bertambah, perselingkuhan terjadi, anak-anak tidak diasuh dengan baik, angka perceraian meningkat, suami-suami tidak diperhatikan bahkan tidak dihargai oleh istri yang bekerja, rumah tangga berantakan, dll.

Anehnya, di zaman sekarang, hampir semua aktivitas bisnis melibatkan perempuan. Perempuan menjadi komoditas iklan terlaris di mana-mana. Perempuan menjadi daya pemikat custemer. Bank menyukai pegawai perempuan, hotel menyukai resevsionis wanita, toko, warung, rumah makan, penginapan, panti pijat, pelayanan kesehatan, dan lain-lain lebih suka melibatkan perempuan. Bahkan kini telah banyak tumbuh bisnis yang berbau maksiat. Karena tanpa aroma maksiat tidak ramai dikunjungi.

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Wisata Rohani. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates