BREAKING NEWS

Minggu, 10 Mei 2015

JALAN LURUS TERPAMPANG JELAS



5. hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
Hanya kepada-Mu, kami menyembah, dan hanya kepada-Mu, kami mohon pertolongan. Ungkapan ini memberi pelajaran kepada manusia, bahwa Allah tidak sekedar memberi petunjuk, rambu-rambu, atau kode-kode, tetapi menuntun, membimbing secara bertahap dan berproses menuju jalan yang lurus. Ungkapan itu, adalah doa yang dituntun langsung oleh Allah swt yang setiap shalat diucapkan. Sebagai refleksi doa yang dipanjatkan kehadirat Allah harus ditempatkan sesudah beribadah, meski ibadah itu sendiri juga doa, tetapi doa tidak langsung. Jika dikaitkan dengan hubungan antar sesama, maka tidak pantas orang menuntut hak, sementara, kewajiban tidak atau belum dilaksanakan, atau belum selesai dilaksanakan. 

6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Jalan yang lurus, meskipun telah dibeberkan secara gamlang kepada umat manusia melalui utusan-utusan Allah, nabi-nabi, shahabat dan pengikut-pengikutnya, tidak serta merta, orang-orang tertarik, lantas memilih. Masih butuh waktu dan proses. Islam adalah agama rasional, maka untuk menuju Islam (jalan lurus) membutuhkan pemikiran, perenungan, penghayatan, pembuktian, bahkan pengorbanan yang tidak sedikit. Mereka yang telah beragama Islam pun belum tentu melalui jalan yang lurus itu. Maka Allah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk selalu berdo’a “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”. Begitulah kasih sayang Allah kepada umat manusia yang tidak terbatas.  Sebagai refleksi, manusia dalam kesesatan atau tidak, sudah pada jalan yang lurus atau belum, tidak sepantasnya bersikap angkuh, manusia bagaimanapun juga tetap manusia, sebagai makhluk, yang lemah. Petunjuk ke jalan lurus berada digenggaman Allah, bukan di tangan Nabi dan Rasul, bukan pula di tangan Malaikat, apalagi di tangan-tangan manusia yang sok angkuh. Maka manusia harus senantiasa berdo’a “Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus”

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Jalan lurus adalah jalan yang ditempuh oleh Nabi-Nabi, orang-orang jujur, pejuang-pejuang syahid dan orang-orang shaleh yang telah diberkati nikmat oleh Allah swt. Jalan lurus dibentangkan Allah dalam bentuk teori dan praktek dan dipaparkan melalui berbagai ungkapan yang variatif: argumentatif, logis, historis, naratif, puitif dan intuitif, pertanyaan dan jawaban. Jalan lurus telah dicontohkan dalam dunia nyata oleh Rasulullah saw bersama shahabat-shahabatnya yang setia setiap saat untuk berjuang dan berkorban penuh keyakinan tanpa keragua-raguan. Bolehlah orang mencontoh yang paling sederhana yang paling bawah, yaitu orang-orang shaleh yang mungkin ada di sekelilingnya atau hidup di sekitar tempat tinggalnya. Namun meniru orang-orang shaleh pun tak semudah membalikkan tangan. Sebab kriteria orang shaleh adalah bukanlah orang fasek dan  bukan pula orang dhalim. Ada tips menjadi orang shaleh (1) mendirikan shalat malam (2) dzikir malam yang lama (3) membaca Alqur’an dan mentababburi maknanya (4) sering berpuasa (5) bergaul dengan orang-orang shaleh.

Jalan lurus bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalannya orang-orang sesat. Hal ini lebih mempertegas dan lebih memperjelas tentang jalan lurus. Kalau orang tidak tahu sejarah Nabi, tidak tahu sejarah orang-orang jujur, tidak tahu perilaku orang-orang shaleh, maka upayakan agar tidak masuk ke dalam kelompok orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat. Orang-orang yang dimurkai Allah adalah orang-orang yang fasek dan orang-orang yang dhalim. Sedangkan orang-orang sesat adalah orang kafir, orang musyrik dan orang munafik. Orang fasek itu orang yang biasa melakukan dosa kecil dan dianggap remeh atau sepele. Dhalim artinya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Orang dhalim berarti orang yang melakukan hal-hal yang tidak pantas, misalnya: menyakiti dirinya sendiri, menyakiti orang lain, menghina, menghardik, mencela. Mungkin fasek lebih ke arah hubungan dengan Allah swt. Dan dhalim lebih berkaitan dengan manusia. Tetapi semua berpusat kepada Allah, karena manusia sebagai hamba-Nya. Banyak istilah-istilah untuk orang-orang buruk, seperti: mujrimin, atsimin, mublisin, musrifin, mu’tadin, mudhillin, mufarrithin (melalaikan), mu’ridhin, mumtarin, muftarin (mengada-ada), zani, fahisy, ashi’, hasidin, dll. Kafir adalah orang yang mengingkari nikmat Allah, lawan Syakir (orang yang bersyukur), tetapi sering diartikan atheis, orang yang tidak bertuhan. Musyrik orang yang bertuhan lebih (menyekutukan Allah). Dan munafik adalah orang yang berpura-pura beriman, ia sejahat-jahat manusia dan lebih jahat dari iblis.

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Wisata Rohani. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates