BREAKING NEWS

Kamis, 19 Maret 2015

Sukses Dunia Akhirat



Sehebat apapun manusia, tidak memiliki apa-apa kecuali atas izin dan ridho Allah. Demikian pula sekaya apapun manusia, tidak memiliki nilai kemuliaan dan harga diri tanpa petunjuk dari Allah swt. Oleh karena itu, sukses pun tidak bisa terlepas dari bingkai aturan Allah swt. Tidak sedikit orang sukses, tetapi tidak memiliki kebahagiaan dan kemuliaan karena cara pemerolehannya melalui jalan instant lalu jatuh tersungkur ke lembah kehinaan, atau mengalami  kejayaan tetapi sifatnya sementara lantas dirudung penderitaan yang datang silih berganti, kemudian berakhir dengan kematian. Itulah sukses fatamorgana yang banyak dialami oleh berbagai kalangan yang menjamur akhir-akhir ini yang lebih mengutamakan kulit daripada isi, lebih mengutamakan penampilan lahir daripada kualitas penilaian di mata Allah swt.

Sukses dunia akhirat telah dicontoh oleh Rasulullah saw yang wafat tidak meninggalkan harta warisan. Kekayaan istrinya bernama Siti Khadijah dipergunakan seluruhnya untuk jihad dan da’wah Islamiyah. Rasulullah saw meskipun sebagai Kepala Negara dan Pemimpin Islam Dunia tidak pernah tidur di permadani indah, kasur yang empuk, springbad, airbad, dll yang kini menjamur di mana-mana dan tersedia di toko-toko sesuai kemajuan zaman. Tetapi Rasulullah saw tidur di atas tikar. Terkadang tidur di depan pintu menunggu istri bangun dari tidurnya karena menghormati dan menyayangi betul istrinya. Kemudian dicontoh oleh Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq yang seluruh kekayaannya juga untuk Islam. Beliau pernah ditanya oleh Rasulullah saw ketika seluruh kekayaannya diserahkan untuk Islam. “Bagaimana dengan istri dan keluarga?” Beliau menjawab: “Allah yang akan menjamin kehidupan mereka” Begitulah keteguhan dan ketegaran “iman” shahabat Abur Bakar.
Ketika Rasulullah saw bertanya kepada seorang shahabat yang mau menginfakkan hartanya “Berapa yang akan kamu infakkan untuk Islam?” Jawab shahabat : “Semuanya, hai Rasul” “Jangan, terlalu banyak” jawab Rasul. Shahabat berkata: “Separohnya, hai Rasul”, “Jangan, separoh termasuk banyak” jawab Rasul. Akhirnya Rasul menetapkan agar shadaqah tidak melebihi sepertiga, karena sepertiga juga termasuk banyak. Jika shadaqah melebihi sepertiga harus minta persetujuan kepada istri dan keluarga.
Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa kualitas shadaqah tidak diukur dengan sedikit banyaknya harta : semua harta, separoh, sepertiga atau seperempat, atau seperlima, atau 2,5%  tetapi diukur oleh semangat ketaqwaan orang yang bershadaqah. Semakin semangat dan ikhlas beribadah dan bersedekah semakin kaya dan sukses, semakin banyak beramal dan berbuat baik serta banyak berkorban atas dasar cinta kepada Tuhan, semakin jaya dan sukses dunia akhirat. Selamat berjuang untuk sukses dunia akhirat.  

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Wisata Rohani. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates