BREAKING NEWS

Jumat, 03 Januari 2014

Adil Makmur Aman Sentosa



Negara adil dan makmur menjadi cita-cita dan harapan setiap orang. Namun bisakah adil dan makmur tercapai dalam suatu negara? Ataukah sebagai sesuatu yang ideal yang sangat berat untuk diperjuangkan? Biasanya sesuatu yang ideal tolok ukurnya abstrak atau relatif dan berubah-ubah seirama dengan situasi dan kondisi zaman. Sehingga tak mungkin untuk dicapai. Seperti istilah kaya, tolok ukurnya masing-masing orang berbeda. Namun konsep adil dan makmur tolok ukurnya jelas, bisa diukur dan diidentifikasi serta tidak berubah-ubah sesuai pedoman Alqur’an dan petunjuk Rasulullah saw. Dengan demikian, semestinya tidak dapat dikatakan”tidak mungkin” untuk mewujudkan negara adil dan makmur dalam tatanan kehidupan dunia yang luas. Paling tidak, ada sebagian wilayah belahan dunia yang mencapai tingkatan adil dan makmur, sementara wilayah yang lain tidak. Dalam sejarah telah membuktikan bahwa di zaman Rasulullah pernah terjadi zaman keemasan dan kejayaan setelah Islam meluas ke wilayah lain di luar semenanjung Arab. Di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz dan di zaman Daulah Abbasiyah, Islam juga menggapai kejayaan dan keemasan menjadi sebuah negara yang adil dan makmur.

Ada tiga ukuran garis besar mengenai negara adil dan makmur berdasarkan pedoman Alqur’an. Dan  secara prinsip dapat diwujudkan dan dilaksanakan meskipun dalam praktek menjadi suatu hal yang sulit terwujud. Sulit dan tidaknya sebenarnya tergantung dari kesadaran dan kemauan dari seluruh anggota masyarakat. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Cita-cita, harapan apapun dapat dicapainya dan Allah akan mengikuti kemauan hamba-Nya sebagaimana dijelaskan dalam hadis Qudsi. “Aku akan mengikuti persangkaan hamba-Ku”.
Adapun ketiga ukuran garis besar itu didasarkan pada masing-masing fungsi dan peran setiap anggota masyarakat yang ada di wilayah suatu negara.  Ada anggota masyarakat yang menduduki jabatan penting dalam suatu pemerintahan, ada anggota masyarakat yang menjadi warga negara sah dalam suatu pemerintahan yang diatur oleh undang-undang, dan ada individu/keluarga yang dapat melakukan aktivitas dengan sesama individu atau sesama anggota keluarga.
1) Menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Jika seseorang menjadi bagian dari aparatur pemerintah, baik pemerintah pusat atau pemerintah daerah, baik menjadi eksekutif, legislatif atau pun yudikatif, mereka harus benar-benar mengemban amanat rakyat yang pada inti pokoknya adalah memberi rahmat kepada seluruh tumpah darah warga negara. Tidak ada niatan sama sekali untuk numpang hidup atau mencari penghidupan di pemerintahan atau jabatan dengan memanfaatkan fasilitas atau uang negara, apalagi mencari dan berusaha menumpuk kekayaan untuk diri,  keluarga dan keturunan. Mungkin lebih baik jika mereka yang diangkat dalam jajaran aparatur pemerintah, mereka telah mapan dalam penghidupannya dan punya sumber penghasilan yang tetap, punya passif income, dll. Itu saja belum merupakan jaminan kalau mereka nanti bersih dan tidak korupsi dalam menjalankan roda pemerintahan. Apalagi yang serba kekurangan.
Mereka yang duduk di jajaran yudikatif atau lembaga penegak hukum, baik kepolisian, kejaksaan, atau pun para hakim di lembaga peradilan dan mahkamah konstitusi harus benar-benar menjalankan fungsi sebagai penegak hukum. Mereka tidak boleh ambivalen dalam langkah kebijakan, keputusan atau pun tindakan yang menyangkut proses pemerolehan vonis yang adil atau pun dalam pelaksanaan eksekusi. Hak-hak terdakwa maupun terhukum pun harus terpenuhi secara adil sampai mereka bebas atau selesai menjalani hukuman. Di dalam Qur’an dijelaskan bahwa “Dan dalam qishaash (hukuman mati) itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. (QS2:179). Meskipun dengan hukuman mati yang kelihatan kejam dan orang menganggap melanggar HAM, tetapi di situ ada rahmat, kasih sayang  atau jaminan kelangsungan hidup bagi umat secara keseluruhan. Justru dengan penegakkan hukum itu tidak ada yang merasa dirugikan, baik terpidana maupun warga negara. Mereka justru merasa senang dan mendapatkan rahmat karena diperlakukan adil oleh para penegak hukum dan rakyat pun senang, sehingga mereka tidak akan protes atau melakukan demontrasi menuntut keadilan para hakim.
Perangkat Hukum yang menjadi pedoman bagi para penegak hukum pun harus berbunyi jelas, tidak ambivalen atau pun multi tafsir. Demikian juga keputusan hakim juga harus berbunyi jelas tidak ambivalen atau pun multi tafsir. Sehingga memudahkan bagi semua pihak dan tidak terjadi konflik antara internal lembaga penegak hukum atau antara lembaga penegak hukum, baik kepolisian, kejaksaan, maupun lembaga peradilan ataupun dari pihak kementrian seperti yang terjadi belakangan ini.
Jika semuanya  jelas, tidak mengandung unsur subyektif karena didukung oleh peraturan perundan-undangan yang jelas, sebenarnya tidak perlu adanya tingkatan keputusan yang selama ini terjadi, seperti peradilan tingkat banding, peradilan tingkat kasasi, dll. Justru dengan banyaknya tingkatan, akan menambah konflik dan menambah ketidakpuasan bagi semua pihak karena membuka lubang-lubang harapan bagi semua pihak. Dan membuka kran bagi munculnya suap. Di zaman Rasulullah saw tidak ada tingkatan-tingkatan keputusan. Hakim adalah wakil Tuhan yang harus dipatuhi keputusannya, apalagi keputusannya itu didasarkan atas sumpah dan sumpah jabatan. Ali bin Abi Thalib meskipun menjadi khalifah saat mengajukan gugatan mengenai baju besi yang hilang yang berada di tangan orang Yahudii, Beliau menerima keputusan hakim itu, yang bernama Syuraih, walaupun keputusannya itu merugikan (tidak adil) karena Beliau hanya bisa mengajukan satu saksi.  Sedangkan saksi minimal dua orang laki-laki. Mengikuti hati nurani akan merasa nyaman dan bahagia, sementara mengikuti nafsu tidak akan pernah puas dan selalu menderita serta tidak mendapatkan kasih sayang dari Allah swt.
2) Menjadi warga negara yang beriman dan bertaqwa
Dalam suatu negara atau dalam lingkup satu desa, penduduknya mayoritas beriman dan bertaqwa, maka Allah akan menurunkan keberkahan dari  langit dan bumi. Allah berfirman: ““Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS  7 :96) Contoh negara yang penduduknya mayoritas beriman dan bertqwa adalah negara Saudi Arabia. Di sana Allah melimpahkan rizqi berupa minyak atau bahan bakar yang melimpah dan sampai diekspor ke negara-negara lain. Di musim haji yang hanya setahun sekali, penghasilannya dari keberkahan melayani tamu Allah selama musim haji dapat untuk menghidupi selama satu tahun. Meskipun bukan negara penghasil buah-buahan kecuali buah Kurma dan Zaitun, di sana aneka macam buah tersedia, apalagi di musim haji, ibarat seperti di syorga, mereka tinggal menikmati makanan-makanan yang beraneka ragam sesuai dengan selera masing-masing.
Maka tidak benar kalau dikatakan bahwa dunia adalah penjara bagi orang-orang mu”min dan syorga bagi orang-orang kafir. Justru mereka yang tidak beriman dan bertaqwa meski beragama Islam kehidupannya diliputi oleh rasa ketakutan, kegelisahan, kekhawatiran, kesedihan dan penderitaan yang tidak pernah berhenti, apalagi orang kafir. Tanyakan saja pada mereka.  Bahagiakah mereka hidup di dunia dengan fasilitas yang serba lengkap, sementara  jauh dari rasa syukur kepada Allah swt. Lebih-lebih jika mereka melanggar aturan negara, misalnya tidak bayar pajak, tidak memiliki KTP, SIM dan lain sebagainya, tentu kehidupan mereka dikejar-kejar oleh aparat negara, atau menjadi buronan yang setiap saat ditangkap oleh petugas, seperti pengedar narkoba.
3) Menjadi individu yang berorientasi kepada ibadah.
Tidak bisa dibayangkan imbasnya dalam kemakmuran, jika seluruh individu anggota masyarakat segala aktivitasnya berorientasi kepada ibadah (pengabdian diri kepada sang Pencipta). Allah tidak akan pernah melanggar janjinya. Semua amal kebaikannya dibalas dengan kebaikan, bahkan pembalasannya berlipatganda.
Dalam soal keamanan mungkin tidak perlu adanya SATPAM, polisi atau pun tentara, karena tidak ada kejahan yang terjadi di masyarakat. Hakim dan Jaksa tidak pernah, atau jarang membuka sidang karena tidak ada perkara yang masuk. Masyarakat berlomba-lomba dalam kebaikan menyantuni anak-anak yatim, mengasihi orang-orang fakir miskin dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan, membantu orang-orang lemah, mendidik dan mengajarkan ilmu kepada orang-orang yang bodoh atau belum mengerti, menyadarkan orang-orang yang belum sadar, bersedekah kepada orang-orang yang serba kekurangan, memakmurkan masjid dengan ibadah ritual yang intensif melalui shalat jamaah seperti di masjidil Haram dan masjid Nabawi.
Tidak ada tawuran, pertengkaran dan permusuhan. Mereka saling hormat menghormati, meski berbeda suku , ras, golongan dan warna kulit. Tidak ada saling mengejek dan menghina dan tidak ada saling merendahkan. Karena dalam Islam semua manusia di mata Allah sama. Yang membedakan adalah taqwanya. Tidak ada diskriminasi. Tidak ada marginalisasi. Tidak ada intimidasi. Maka muncullah rasa aman dan nyaman menghirup  udara segar, udara kebebasan dalam berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah. Fastabiqul-khairooooot.

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Wisata Rohani. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates