BREAKING NEWS

Jumat, 20 September 2013

Kiat Hindari Musibah

Keindahan hidup telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. melalui keteladanan pemimpin yang konsisten menegakkan kebaikan, kebenaran, keadilan dan kejujuran. Kehidupan belum terasa indah ketika masyarakat belum jujur, baik kepada diri sendiri, apalagi kepada orang lain. Maka menjadi pemimpin tidaklah mudah jika target utamanya membentuk dan mewujudkan masyarakat jujur. Namun itu harus dicapai untuk mendapatkan keindahan dunia atau negara yang adil dan makmur “baldatun thoyyibatun” Tidak usah jauh-jauh kita melihat pergaulan kita sehari-hari, dari persoalan muamalah, jual beli, hutang piutang, janji-janji, usaha bersama, gotong royong, sudah saling menghianati. Muncullah kecurigaan di antara kita yang merusak tatanan berbaik sangka yang dianjurkan Allah dan Rasulullah. Dampak selanjutnya hilang kepercayaan karena ada dusta di antara kita yang merusak tatanan pergaulan manusia. Kalau persoalan mendasar mengenai tata pergaulan atau human relation sudah tidak ada atau rusak, lalu apa yang akan kita bangun mengenai umat. Mereka hidup individualistis. Rasanya kita perlu perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit untuk menuju masyarakat yang jujur, apalagi mewujudkan negara adil dan makmur. Dalam keluarga saja, suami istri, kakak beradik sering terjadi konfik. Jumlah perceraian meningkat, pembunuhan terjadi di mana-mana, tawuran antar pelajar tidak asing bagi kita, jumlah orang stress juga meningkat bersamaan dengan banyaknya penipuan dan pengangguran.

Dengan demikian, kunci utama membangun umat harus dimulai dari individu yang jujur, tidak mau berdusta. Ketika mereka jujur terwujudlah berbaik sangka yang berimbas kepada sikap saling tolong menolong di antara mereka. Dampak yang sangat indah dari berbaik sangka adalah tumbuhnya sikap tolong menolong dan gotong-royong yang kini mulai sirna di muka bumi pertiwi ini, dan dapat melenyapkan bentuk-bentuk maklar, markus (maklar kasus) yang sudah lama menyusup di berbagai lini kehidupan manusia. Percaloan yang merebak di tanah air yang menyuburkan budaya suap menimbulkan persoalan bangsa yang sampai sekarang sulit diatasi, yaitu pemberantasan korupsi.
Negara-negara asing tidak mau berinvestasi di Indonesia, karena biaya tinggi yang ditimbulkan oleh banyaknya pungutan liar akibat calo atau maklar yang berkeliaran di berbagai bidang. Maka tidak heran kalau mendengar ada pabrik sepatu di Tanggerang boyong ke luar negeri, gara- gara biaya tinggi dan tenaga kerja sering berdemo menuntut kenaikan upah.
Semua itu sebenarnya belum menjadi sebuah keprihatinan. Meskipun telah menjadi persoalan bangsa. Tetapi yang amat prihatin di lubuk hati kita adalah kegiatan kita sudah diukur dengan serba uang. Tidak mau kerja tanpa uang, tidak mau pergi tanpa uang, tidak mau bergerak tanpa uang, tidak mau berkorban tanpa uang, tidak mau membantu tanpa uang. Lalu mana nilai ibadah kita.
Menurut Rasulullah jika suatu kaum atau umat sudah tidak mau jujur dan suka ingkar janji, maka yang menjadi pemimpin adalah musuh-musuh kita. Maukah kita dipimpin oleh musuh kita. Relakah kita dipimpin oleh orang yang tidak kita sukai. Apalagi ia berbuat dhalim, memeras dan menindas rakyat. Dan ini sudah terbukti mengangkat pemimpin melalui pemilihan langsung. Rakyat memilih tidak atas dasar suka, rakyat memilih tidak atas dasar obyektif dalam penilaian moral, rakyat memilih tidak atas dasar dia mampu dan profesional, tetapi rakyat memilih atas dasar uang yang paling banyak mereka terima. Dan lagi-lagi ini karena suap yang telah membudaya.
Selanjutnya ketika suatu kaum memiliki rasa angkuh atau ujub, ia mulai berani melanggar aturan Allah yang tertuang dalam Alqur’an dan Hadis Rasul. Pelanggaran demi pelanggaran dilakukan oleh manusia, sampai membentuk kebiasaan-kebiasaan buruk. Tentu kebiasaan buruk akan merusak ekosistem atau sendi keharmonisan hidup. Kegiatan tata surya atau alam semesta itu sendiri beserta planet-planetnya mengikuti sunatullah (aturan Allah). Kalau ada salah satu planet yang bergerak tidak mengikuti sunatullah, akan terjadi benturan dahsyat yang mengakibatkan kerusakan alam sekaligus kematian penghuninya. Oleh karena itu jika kegiatan umat manusia sudah di luar batas aturan Allah, tinggal menunggu akibatnya.
Aturan Allah (syari’at Islam) ada yang berupa perintah dan ada yang berupa larangan. Kalau perintah Allah dilanggar atau tidak dipatuhi dan ditaati, akan merajalela kemiskinan dan pengangguran yang kini mulai dirasakan. Selanjutnya jika larangan Allah dilakukan, tidak dijauhi, seperti misalnya, kaum muda mudi melakukan pergaulan bebas, hubungan seksual di luar nikah meluas di berbagai kalangan, maka akan banyaklah terjadi kematian, pembunuhan, baik secara sadis atau sembunyi-sembunyi sebagaimana dilansir oleh sabda Nabi Muhamad saw. : “Jika sudah banyak umat manusia melakukan perzinaan dan kemaksiatan, maka akan banyak terjadi kematian atau pembunuhan”. Saat ini sudah mulai dirasakan dan dapat disaksikan di mana-mana, sebagaimana berita-berita yang ditayangkan di berbagai stasion TV, surat-surat kabar, dan majalah-majalah.
Tentu menjadi amat prihatin bagi kita yang mendambakan kedamaian, kesejahteraan, kesuksesan dan kebahagiaan. Oleh karena itu satu-satunya jalan solusi, kita harus membersihkan hati (Tazkiyah Nafs) dari virus-virus yang ganas, seperti : rakus, tamak, cinta harta, panjang angan-angan, ujub, dengki, hasut, sombong, dendam dan permusuhan. Tanpa itu semua sulit digapai harapan kita.
Dalam hubungan antar sesama manusia, ada istilah muamalah yang mengatur perdagangan, jual beli, hutang-piutang, gadai, pesanan, syirkah, dll. Karena tamak dan rakus, manusia tidak segan-segan mengurangi timbangan dalam jual beli. Alqur’an mengancam terhadap mereka yang tidak benar dalam menimbang dan mengukur volume barang yang diperdagangkan. (Al-Muthoffifin ayat 1-2). Pelanggaran dalam bentuk sekecil apapun diancam oleh Allah, apalagi pelanggaran besar, Maka hati-hatilah kita dalam berbisnis.
Sebenarnya petani gagal panen karena hama wereng, walang sangit, tikus atau ulat, tidak perlu lagi dilihat dari kacamata lahir, lantas kita ramai-ramai membunuh massal tikus-tikus yang tidak salah dengan kerja bakti, membunuh ulat atau serangga yang menjadi makanan katak dan ular dengan menyemprot obat pestisida atau insektisida. Hal ini akan membahayakan semuanya; mematikan ulat, serangga, katak, ular, ikan yang hidup di aliran sungai, bahkan manusia yang mengkonsumsi hasil pertanian itu.
Zakat berhubungan erat dengan makanan pokok dan berkaitan erat dengan kesadaran masyarakat, sebagaimana orang yang mengurangi timbangan. Dan dalam kaitan makanan pokok yang dihasilkan dari pertanian yang mencapai satu nisab, petani wajib mengeluarkan zakat 10%. Ini artinya berhubungan pula dengan kesadaran manusia untuk mengeluarkan zakat. Oleh karena itu, ancaman bagi mereka yang enggan zakat adalah musim kemarau yang panjang. Bahkan dulu di zaman khalifah Abu Bakar, beliau menyuruh kaum muslimin untuk memerangi mereka yang enggan zakat.
Secara ilmiah, musim yang tidak teratur; musim kemarau yang panjang atau sebaliknya,adalah akibat pemanasan global. Tetapi secara agama (wahyu) diakibatkan oleh tangan-tangan manusia. Allah berfirman: “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan sebab ulah tangan-tangan manusia, supaya mereka merasakan akibat yang diperbuatnya”.(QS) Meskipun sama penyebabnya, yaitu akibat ulah manusia, tetapi agama lebih mengfokus pada kesadaran keberagamaan, yaitu enggan berzakat sementara ilmu pengetahuan lebih menekankan pada hukum alam yang sama-sama merupakan sunatullah. Dengan demikian pemanasan global juga disebabkan oleh tangan manusia yang tidak mengindahkan pula aturan Allah. Allah berfirman dalam surat al-A’raf ayat 96 : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abas, Rasulullah saw. bersabda: “Jika suatu kaum mengurangi timbangan dalam berdagang, maka akan terjadi gagal panen. Dan jika suatu kaum enggan atau menolak untuk menunaikan zakat, maka akan ada musim panjang tanpa turun hujan.”
Berdasarkan konsep wahyu di atas, maka sebenarnya solusi yang ampuh untuk menyelesaikan persoalan umat adalah dengan kembali kepada hukum Allah yang tertuang dalam Alqur’an dan Hadis. Namun dasar pemikiran manusia yang dianugerahi akal ditambah dengan hasil penelitian ilmiah, mereka lebih membanggakan akal dan menggunakan hasil penelitian ilmiah daripada dengan wahyu atau konsep Tuhan. Bahkan konsep Tuhan terkadang dipertanyakan manakala bertentangan dengan pemikiran ilmiah. Pada akhirnya problem-problem baru muncul dalam masyarakat akibat mengabaikan wahyu. Dalam dunia medis, penyakit-penyakit baru juga muncul seirama dengan kemajuan di bidang ilmu kedokteran.
Untuk memilih di antara dua pendekatan solusi di atas, kita dihadapkan kepada dua hal yang sangat dilematis. Jika memilih pendekatan solusi wahyu, kita masih ada keragu-raguan (keimanan yang lemah). Sementara memilih konsep pemikiran ilmiah memunculkan problem-problem baru yang menambah sulit cara penyelesaiannya. Contoh yang mudah soal hukum keluarga, Alqur’an jelas-jelas mengatakan bahwa yang wajib memberi nafkah dalam keluarga adalah suami. Sekarang dengan banyaknya wanita yang bekerja, lalu menopang kehidupan keluarga, membantu suami dalam hal nafkah, wanita mulai merasa unggul dari suami, lantas muncul sikap meremehkan suami, lama-kelamaan tidak patuh kepada suami. Jika ada laki-laki yang jatuh cinta, ia merespon, lantas merasa senang karena dengan suami sudah bosan, tidak ada rasa suka apalagi cinta. Jika wanita itu masih sayang sama anak, mungkin ia melakukan perselingkuhan dengan mempertahankan perkawinan. Sebaliknya jika kebencian terhadap suami mencapai puncak, ia melakukan gugat cerai. Tentu yang menjadi korban untuk masa depan adalah anak-anaknya yang masih memerlukan bimbingan dan pembinaan dari orang tuanya. Sedangkan ibu atau wanita sering sikapnya hanya didasarkan pada kepentingan nafsu belaka. Wanita yang sering keluar rumah, anak-anak menjadi kurang mendapatkan perhatian dari ibunya. Padahal ibu orang yang paling dekat denganmya. Ini menjadi salah satu problem. Selanjutnya istri di luar rumah sudah di luar pantauan suami. Sehingga acapkali laki-laki lain berkomunikasi dengan wanita atau istri yang sedang bekerja, bisa karena teman sekantor, karena teman tetangga kios, teman bisnis, teman berdagang, bisa juga karena kebetulan bertemu di jalan atau dalam perjalanan jauh yang bisa juga berlanjut dengan hubungan cinta atau perselingkuhan. Inilah hal-hal yang sangat mungkin dapat terjadi.
Hubungan seksual di luar nikah antar teman sekerja, meskipun sudah berkeluarga sudah mulai merebak akhir-akhir ini. Wanita berkerja imbasnya sudah mulai meluas dan komplek, seperti : angka perceraian bertambah, ganti-ganti pasangan, baik resmi atau tidak resmi bermunculan terjadi di masyarakat, pembunuhan anak tak berdosa, aborsi, dan lain-lain juga menghiasi berita-berita koran. Hal ini membuat pusing para penegak hukum, para agamawan, rohaniawan, para da’i dan muballigh.
Sekali lagi untuk mencari solusi atas dampak wanita bekerja, dihadapkan pada persoalan yang dilematis, apalagi jumlah perempuan lebih banyak daripada jumlah laki-laki. Kalau perempuan tidak boleh bekerja tentu akan banyak pengangguran, siapa yang bertanggung jawab. Secara ilmiah benar. Tetapi secara wahyu atau konsep Tuhan belum dicoba. Tinggal keberanian kita dan keyakinan kita. Kenapa kita lagi-lagi ragu akan jaminan dan janji Allah yang tegas-tegas ada dalam Alqur’an. “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”(Q.S : 11:6) dan firman Allah ”Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”(QS : 65:2 ).
Memang sepertinya tidak mudah kalau kita menggunakan pendekatan solusi Ilahi, karena sudah terlanjur banyak sekali wanita yang sudah bekerja di berbagai sektor. Tetapi hal ini tidak lantas semua wanita tidak boleh bekerja. Perlu ada pemilahan dan klasifikasi, misalnya, wanita-wanita yang terhormat /sudah bersuami (mukhson), apalagi suami kaya atau mampu, tidak boleh bekerja. Dan wanita-wanita tidak terhormat (ghairu mukhson) harus bekerja, sudah barang tentu bekerja pada bidang yang layak untuk kaum wanita dan tidak bercampur dengan kaum lelaki. Contoh : membuat kerajinan tangan, membatik, menjahit, membordil, memasang kancing, mendesain baju atau kerudung, dll.

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Wisata Rohani. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates