BREAKING NEWS

Sabtu, 26 Januari 2013

SUKSES DIMULAI DARI HAL SEPELE


Sesuai dengan kebiasaan, orang cenderung menyepelekan hal-hal yang kecil. Baik positif maupun negatif. Dan ini termasuk kebiasaan buruk. Ia tidak menyadari bahwa yang kecil itu tidak begitu lama akan menjadi besar. Dan dampaknya besar juga. Terjadinya sukses besar dimulai dari sukses-sukses kecil. Demikian juga kasus besar dimulai dari munculnya kasus-kasus kecil yang tidak disadari dan dirasakan.
Oleh karena itu mulai saat ini, hati-hati dengan perkara kecil yang negatif, misal : malas, menunda pekerjaan, melihat mainan, main game, menjulurkan kain, kacir rambut, anting-anting satu, sebagai lambang kesombongan, dan lain-lain. Sebab meski sepele dan awalnya iseng, akan menjadi kebiasaan buruk yang membahayakan. Sebaliknya hal-hal  kecil yang positif tidak boleh disepelekan, seperti : mengucur air dari poci ke gelas orang yang mau minum, menebar senyum, menyingkirkan duri di jalan, membuang sampah pada tempatnya, membantu mengambil air dari sumur dan lain-lain. Sebab kebaikan menyejukkan hati bagi yang melakukannya dan segera dirasakan manfaatnya secara luas oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan balasan kebaikan dilipatgandakan oleh Allah yang Maha Pemurah.
Jika kita mau memulai dari diri kita sendiri melakukan hal-hal kecil yang positif, seperti melihat keindahan alam ciptaan Allah, mendengarkan ayat suci Alqur’an, memikirkan dan membayangkan hal-hal yang baik, kita telah meraih sukses kecil dan tidak lama lagi segera diikuti sukses besar. Tunggulah  apa yang akan terjadi.  Sebaliknya, jika kita memulai melihat, mendengarkan dan memikirkan hal-hal negatif, akan menjadi penghalang bagi tercapainya kesuksesan. Bahkan jatuh ke tempat yang paling hina. Nabi Musa as mendapatkan jodoh, dimulai dari perbuatan kecil ketika beliau pergi ke Madyan.
Kisah ini temaktub di dalam Alqur’an surat Al-Qashash ayat 23-27, yaitu : 23. Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya." 24. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." 25. Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami." Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu." 26. Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." 27. Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang- orang yang baik."
Jika seseorang tampil dengan rambut kacir di kepalanya, lantas membayangkan penyanyi rok yang arogan dengan pakaian urakan, maka langsung, tidak usah menunggu waktu lama, sikapnya, perbuatannya, cara berjalan dan gaya bicaranya persis seperti penyanyi-penyanyi barat. Mereka adalah orang-orang sombong yang merasa bahwa dunia adalah miliknya. Kesombongan membuat orang lupa kepada Tuhan bahkan lupa kepada kawannya. Ciri-cirinya, ia menyepelekan kewajiban dan aturan syari’at agama. Lalu melakukan hal-hal yang makruh seperti merokok, bahkan menular ke perbuatan-perbuatan yang haram, seperti : ganja, morfin, sabu-sabu, pil ekstasi dan lain-lain. Ia terang-terangan menghina dan membangkang Allah dan orang-orang sholeh yang dulu menjadi kawan akrabnya
Menyepelekan hal-hal yang kecil adalah perwujudan dari sikap sombong. Jika seseorang menyepelekan hal-hal kecil, berarti ia mempunyai sifat sombong atau takabur. Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Jika kawan-kawan mengajak untuk melakukan hal-hal sepele yang negatif, tinggalkanlah. Karena apabila dituruti kemauannya, akan menjadi bahan tertawaan orang. Orang-orang akan mengumbar aibnya, lalu jatuhlah harga dirinya di mata mereka.
Hal-hal kecil yang positif pun jika disepelekan oleh seseorang, ia akan dinilai kawan-kawannya sebagai orang yang sombong. Contoh, jika seseorang berjumpa dengan kawannya di jalan, lantas ia tidak menyapa, maka kawan itu menilai dan mengatakan kepada teman yang lain bahwa dia sekarang sombong. Apalagi kalau saat berjumpa memalingkan muka. Itu pertanda menebarkan permusuhan. Maka alangkah baiknya kalau bertemu dengan kawan, menyapa sambil tersenyum,  menebarkan salam. Allah akan mencurahkan rahmat dan barokah-Nya kepada mereka, meskipun sekedar melakukan hal-hal kecil yang dianggap sepele. Dalam Islam, hal-hal kecil kalau disyari’atkan atau diperintahkan menjadi penting dan besar manfaatnya, seperti : tersenyum, bersugi, uluk salam, membelai rambut anaknya atau anak yatim, duduk bersama orang miskin, dan lain-lain. Selamat berkarya.

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Wisata Rohani. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates