BREAKING NEWS

Kamis, 24 Januari 2013

KIAT UBAH MINDSET


Pengertian zuhud sering disalah-artikan oleh pemeluk agama Islam. Mereka lantas hidup dalam kemiskinan dan merasa nyaman. Tidak ada upaya bagi mereka untuk bangkit. Mereka hidup di kolong-kolong jembatan, di tempat-tempat kumuh dan di bantaran-bantaran sungai. Ada yang lebih nyaman mencari tempat di gunung-gunung dan menjauhi suatu keramaian, sembari menjauhi kemaksiatan yang semakin menganga terbuka lebar. Karena tidak ada sejengkal tanah untuk numpang di kota-kota ramai dan tidak ada ruang gerak untuk melangkah. Hampir semuanya, sudah dikuasai oleh kapitas, materialis, kaum pengusaha, kaum berdasi dan kaum artis serta selebritis.

Sering pemeluk agama Islam mendengar bahwa dunia adalah penjara bagi umat Islam dan syurga bagi orang-orang kafir. Sehingga tidak ada upaya bagi umat Islam untuk bergerak. Lebih senang berjalan di tempat, meski orang-orang lain berjalan maju. Lebih-lebih ada pepatah jawa yang mengatakan : “nrimo ing pandum”, dan “mangan ora mangan kumpul”. Mereka malah lebih suka malas-malas, tidur, bangun,  tidur kembali, dan bangun sambil mengepulkan asap rokok yang tidak mau berhenti untuk menghilangkan stres. Padahal taqdir Allah terbuka lebar untuk diubah. Dan Allah akan mengikuti kemauan hamba-Nya. Umat Islam semestinya harus hijrah dari taqdir buruk kepada taqdir yang baik, dari mskin kepada kaya, dari pengemis menjadi pemberi. Ada apa gerangan?
Mindset atau paradigma salah yang selama ini dipakai oleh sebagian besar umat Islam harus diperbaiki terlebih dahulu. Pandangan kalau umat Islam itu miskin, umat Islam itu dipenjara di dunia, umat Islam itu kumuh, umat Islam itu kotor, umat Islam itu malas, umat Islam itu hina, umat Islam itu tidak percaya diri, dll harus dibuang jauh-jauh dari pikiran mereka. Sebab akan menjadi racun sepanjang hidup. Dan itu bukan dari budaya muslim yang sebenarnya.  Sementara mereka masih meyakini Islam sebagai ajaran yang benar dan baik. Sehingga sulit untuk mengubahnya. Tetapi itu semua berpangkal dari kebodohan umat Islam itu sendiri karena lama terkungkung dalam kemiskinan. Dan tidak mau memahami serta  menghayati apalagi mengamalkan ajaran Islam yang mulia.
Hadits di atas mengritik pemahaman umat Islam yang salah. Zuhud diartikan sebagai benci dunia, benci harta benda, benci kekayaan. Lantas mereka tidak mau dengan harta kekayaan itu dan  tidak mau bekerja, karena harta kekayaan akan menyesatkan, akan melupakan Tuhan. Mereka mengharamkan diri atau menolak harta kekayaan yang datang kepadanya, padahal halal. Tidak demikian. Itu adalah pemahaman yang salah. Pemahaman yang benar adalah bahwa dunia dan seisinya diciptakan Allah untuk manusia. Harta kekayaan sebagai rizki untuk kemakmuran dan kesejahteraan manuisa. Apa yang ada di sisi manusia tidak begitu penting dibanding dengan yang ada di sisi Allah. Artinya harta itu titipan Allah tidak boleh dipegang erat-erat lantas cinta dunia menjadi bakhil. Karena di sisi Allah lebih penting, maka harta kekayaannya segera dibelanjakan untuk amal shaleh, untuk menolong orang lain, untuk sedekah, untuk amal jariyah, untuk memberi makan orang-orang lapar, untuk kesejahteraan orang-orang miskin yang sengsara dan menderita.
Zuhud diartikan membuang-buang harta kekayaan juga suatu kekeliruan besar. Karena harta kekayaan tidak dimaknai untuk ibadah, tetapi untuk dihambur-hamburkan yang tidak jelas manfaatnya, seperti untuk pesta maksiat, membuat petasan yang mahal, membuat balon yang besar untuk diterbangkan ke angkasa, lantas orang-orang ramai menyaksikan, membeli terompet sebanyak-banyak untuk memeriahkan dan menyambut tahun baru, atau untuk pesta kembang api dan lain-lain. Umat Islam di kalangan menengah atas cenderung berbuat seperti itu. Sementara di kanan kiri, masih banyak umat Islam yang hidup di bawah garis kemiskinan, masih banyak umat Islam yang menderita, masih banyak umat Islam yang nganggur, masih banyak umat Islam yang mengemis, masih banyak umat Islam yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya, dan lain-lain. 
Zuhud juga diartikan sebagai kesabaran dan tahan banting menghadapi musibah karena di balik musibah atau kegagalan ada jalan keluar dan kemudahan. Sehingga umat Islam tidak patah semangat, punya rasa optimis yang tinggi, tidak merasa rendah, tidak merasa sedih, tidak pernah mengeluh, apalagi menyerah kepada nasib. Bekerja diartikan sebagai ibadah yang mau tidak mau harus dilakukan setiap saat dan setiap kesempatan tanpa mengenal berhenti. Lihatlah semut yang setiap saat selalu berjalan mencari dan mengangkut makanan. Demikian pula burung, pagi-pagi sudah beterbangan gesit dari pohon ke pohon dengan kicauan yang indah, mencari karunia Allah di muka bumi.
Apabila umat Islam menderita suatu musibah, mereka merasa bersyukur karena pahala musibah di sisi Allah lebih dicintai daripada mengeluh yang menambah rasa sakit dan menderita serta tidak berpahala. Sehingga manakala orang kaya itu sakit, tidak mau menghabiskan kekayaannya untuk kesembuhan penyakitnya dengan berobat ke sana ke mari bahkan ke luar negeri. Tetapi dengan jiwa yang tenang dan sabar sambil menunggu pahala dari Allah, ia berinfak dengan kekayaannya dengan penuh kebahagiaan dan ketulusan. Dan dengan izin Allah pula penyakit yang dideritanya segera pergi, karena sedekah kata Rasulullah dapat menolak bala dan musibah. Menurut para ahli medis orang yang sabar dan gembira, akan memproduksi imun yang menambah kekebalan tubuh, sehingga penyakit yang dideritanya segera sembuh. Sebaliknya orang yang tidak sabar, mengeluh dan cemas, akan mengeluarkan asam yang mengundang tumbuhnya penyakit baru.

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Wisata Rohani. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates