BREAKING NEWS

Selasa, 14 Februari 2012

TIPS HINDARI KESIA-SIAAN

Tentu, semua orang ingin hidupnya bermanfaat dan berguna. Tetapi hampir setiap insan hidupnya sia-sia. Bagaimana tidak, setiap bulan, setiap minggu, setiap hari, bahkan setiap waktu, yang dipikirkan uang, harta, kekayaan, mobil, rumah dan lain-lain. Aktivitas kita dari bangun tidur sampai tidur kembali dalam rangka mencari uang, harta, dan makanan. Malahan ada orang yang mengorbankan waktu tidurnya untuk mencari tambahan penghasilan dengan lembur atau jadi supir bus malam.
 
Manusia sudah seperti robot yang dikendalikan oleh nafsu. Bukan manusia mengendalikan nafsu. Itulah kesia-siaan hidup yang sebenarnya yang tidak disadari dan telah merasuk hampir ke semua lapisan masyarakat. Sedemikian hebatnya nafsu yang ada pada manusia, sampai-sampai ada manusia yang tega membunuh saudaranya hanya karena soal rebutan harta. Dunia dan seisinya memang manis dan enak dinikmati. Siapa sih, orangnya yang tidak ingin uang, harta dan kekayaan. Maka, wajar mereka terpesona dengan dunia. Dan tidak ingin cepat mati meskipun sudah tua dan sakit-sakitan. Allah berfirman : “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.: “ (QS : 57 “ 20). Maukah kita ditipu oleh kesenangan dunia yang akhirnya menjadi  manusia yang sia-sia hidupnya. Karena sedemikian hebatnya tipu daya kehidupan dunia dan moleknya serta anggunnya dunia seisinya, sampai-sampai orang tergiur ingin memilikinya. Tetapi  Shahabat Ali bin Abi Thalib terang-terangan tidak suka dengan dunia sampai mengucapkan thalaq kepada dunia dengan ucapan: “Wahai dunia, aku ceraikan kamu”

Bagaimana caranya agar hidup ini tidak sia-sia? Apakah dengan cara menceraikan dunia sebagaimana yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib? Atau  tetap berkonsentrasi dengan dunia, karena dunia ini tempat hidup manusia. Untuk menjawab persoalan ini, barangkali  perlu merenung tentang prilaku iblis yang mendapat laknat dari Allah swt. Iblis tidak patuh kepada perintah Allah karena sombong. Maka jika manusia ingin hidupnya tidak sia-sia, tinggalkanlah sikap sombong.  Manusia sungguh tidak pantas berlagak sombong kepada sesama manusia yang sama-sama lemah, apalagi sombong di hadapan Allah swt. Namun kenyataannya tidak sedikit di antara mereka yang takabur. Mereka merasa paling kaya, paling unggul, paling pintar, paling benar, lantas menyepelekan orang lain, merendahkan, bahkan menghina tanpa ada rasa berdosa.
Dengan menjauhi sikap sombong, berarti manusia sebagai hamba Allah harus sungguh-sungguh dan  benar-benar memposisikan diri sebagai seorang hamba, tidak lebih. Artinya harus tawadhu, patuh dan taat kepada Allah yang menciptakannya tanpa reserve atau alasan apapun. Sehingga seluruh aktifitasnya sesuai dengan perintah dan amanat Allah, dan dilakukan secara istiqomah, penuh keikhlasan, tanpa dicampuri dengan dosa dan maksiat.
Kalau sebagian besar atau secara total orientasi hidup manusia untuk kehidupan akhirat, Allah akan mengumpulkan segala urusannya menjadi mudah. Dan orang-orang mu’min akan mendukung secara ikhlas penuh kasih sayang atas segala urusannya. Dan Allah akan membantu mempercepat segala urusan kebaikan. Rasulullah saw. bersabda : “Kosongkanlah dirimu dari keinginan-keinginan dunia sekuatmu! Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai cita-cita utama, maka Allah akan meramaikan kesia-siaan hidupnya. Dan akan menyukai (haus terhadap) benda-benda yang dilihatnya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai cita-cita utama, maka Allah akan mengumpulkan segala urusannya menjadi mudah. Dan Allah akan menjadikan ia kaya hati. Seseorang yang menghadapkan hatinya kepada Allah, Allah akan menghadapkan hati orang-orang mu’min cinta dan sayang kepadanya. Dan Allah akan mempercepat setiap kebaikan kepadanya”. (HR. Thabrani).
Untuk menjadi manusia yang tidak sia-sia hidupnya, tentu harus menjadi ulama. Artinya harus cerdas, pandai, berwawasan luas sebagaimana Rasulullah saw, para shahabat, para ulama,  para wali, dan orang-orang soleh (salafus-shalihin). Allah swt berfirman : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”, (QS 35:28). Dengan demikian untuk menuju tingkatan ulama, seseorang mau tidak mau harus terus-menerus belajar, menuntut ilmu tanpa mengenal istirahat dan tanpa rasa malu. Apalagi kalau ia masih berpengetahuan sedikit, sungguh masih jauh perjalanannya menuju “hidup penuh makna tanpa kesia-siaan”.
Ingatlah, mencari ilmu itu wajib. Dan akan ada saja rintangan yang bakal dihadapi oleh orang-orang yang sedang mencari ilmu. Terkadang orang terlena dengan kesenangan yang sifatnya sementara yang kini merebak dimana-mana, terutama akibat dari kemajuan di bidang teknologi komunikasi. Anak-anak kita sudah dipegangi hp dan hampir semua waktunya dihabiskan untuk bermain hp. Belajar menjadi tuntutan nomor dua atau bahkan nomor sepuluh. Belum lagi bermain play station, video games, game online, dan lain-lain. Na’udzu billah.

Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Wisata Rohani. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates